Tugas Portofolio Ke-13
Teori dan Strategi Pembelajaran Vokasi
Judul Portofolio : Model Pengajaran Pendidikan Vokasi
Nama Mahasiswa : Muhamad Tito Purnomo(2308049032)
Apa itu model pengajaran pendidikan vokasi?
Model pengajaran pendidikan vokasi adalah kerangka kerja yang dirancang untuk mengajarkan keterampilan teknis dan praktis yang diperlukan di bidang pekerjaan tertentu. Model ini berfokus pada pengembangan kompetensi yang dapat langsung diterapkan di tempat kerja, sering kali melalui pendekatan pembelajaran berbasis proyek dan pengalaman praktis. Pendidikan vokasi menggabungkan teori dengan praktik, memberikan siswa kesempatan untuk menguasai keterampilan melalui latihan langsung dan simulasi situasi kerja nyata. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan peserta didik dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan agar siap menghadapi tuntutan dan tantangan dalam dunia industri dan pekerjaan.
Model Pengajaran Pendidikan Vokasi
Pada pertemuan ini saya mendapatkan informasi 4 model pengajaran pendidikan vokasi sebagai berikut:
A. Pembelajaran Berbasis Interaksi Sosial
Pada metode belajar yang paling diutamakan dalam pendekatan ini antara lain diskusi, problem solving, motode simulasi, bekerja kelompok, dan motede lain yang menunjang berkembangnya hubungan sosial peserta didik. Model interaksi sosial pada hakekatnya bertolak dari pemikiran pentingnya hubungan pribadi (interpersonal relationship) dan hubungan sosial atau hubungan individu dengan lingkungan sosialnya. Dalam konteks ini proses belajara pada hakekatnya adalah mengadakan hubungan sosial dalam pengertian peserta didik berinteraksi dengan peserta didik lain dan berinteraksi dengan kelompok-nya . langka yang ditempuh guru dalam model ini adalah:
(1) guru mengemu-kakan masalah dalam bentuk situasi sosial kepada para peserta didik
(2) peserta didik dengn bimbingan guru menelusuri berbagai macam masalah yang terdapat dalam situasi tersebut
(3) peserta didik diberi tughas atau permasala-han untu dipecahkan, dianalisis, dikerjakan yang berkenaan dengan situasi tersebut
(4) dalam memecahkan masalah belajar tersebut peserta didik diminta untuk mendiskusikannya
(5) peserta didik membuat kesimpulan dari hasil diskusinya
(6) membahas kembali hasil-hasil kegiatannya.
Model ini dapat dicontohkan antara lain adalah menggunakan motode sosiodrama atau bermain peran (role playing) keterlibatan peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar cukup tinggi terutama dalam bentuk partisipasi dalam kelompoknya, partisipasi ini menggabarkan adanya interaksi sosial did antara sesama peserta didik dalam kelompok tersebut. Oleh karena itu model ini boleh dikatakan berorientasi pada peserta didik dengan mengembangkan sikap demoktratis, artinya sesama mereka mampu saling menghargai, meskipun mereka memiliki perbedaan.
B. Pembelajaran Berbasis Pemrosesan Informasi
Model pembelajaran pemrosesan informasi merupakan salah satu model pembelajaran yang berdasarkan pada teori belajar kognitif (Piaget) dan berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi yang dapat memperbaiki kemampuannya. Teori pemrosesan informasi ini dipelopori oleh Robert Gagne. Asumsinya adalah pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan dan perkembangan itu sendiri merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi yang kemudian diolah, sehingga menghasilkan output dalam bentuk hasil belajar (Rusman, 2010:137-139). Lebih lanjut menurutnya, dalam pemrosesan informasi terjadi interaksi antara kondisi internal (keadaan individu, proses kognitif) dan kondisikondisi ekternal (rangsangan dari lingkungan) dan interaksi antar keduanya akan menghasilkan hasil belajar. Pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia (human capitalities) yang terdiri dari:
(1) informasi verbal
(2) kecakapan intelektual
(3) strategi kognitif
(4) sikap
(5) kecakapan motorik.
Di samping hal itu, Gagne dalam Trianto (2009:27) mengutarakan bahwa untuk terjadinya belajar pada diri siswa diperlukan kondisi belajar, baik kondisi internal maupun kondisi eksternal. Kondisi internal merupakan peningkatan memori siswa sebagai hasil belajar terdahulu. Memori siswa yang terdahulu merupakan komponen kemampuan yang baru dan ditempatkannya bersama-sama. Kondisi eksternal meliputi aspek atau benda yang dirancang atau ditata dalam suatu pembelajaran. Lebih lanjut, dia menekankan pentingnya kondisi internal dan kondisi eksternal dalam suatu pembelajaran, agar siswa memperoleh hasil belajar yang diharapkan. Dengan demikian, akan lebih baik jika memerhatikan dan menata pembelajaran yang memungkinkan mengaktifkan memori siswa yang sesuai agar informasi yang baru dapat dipahaminya.
C. Pembelajaran Berbasis Aktivitas Personal
Activity Based Learning (ABL) dapat dipandang sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan kepada aktivitas siswa secara optimal untuk memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang. Penerapan pembelajaran yang berbasis aktivitas tentu tidak terpisah dari konsep Activity Based Learning (ABL). Jonassen (2000) mengatakan bahwa belajar adalah proses aktivitas sistem yang amat komplek. Oleh karena itu proses pembelajaran tidak bisa dilakukan hanya dengan satu pendekatan. Berpijak pada permasalahan belajar yang demikian kompleks maka dikembangkan pendekatan ABL. ABL merupakan proses pembelajaran yang mendorong dan mengembangkan keaktifan siswa dalam pemahaman konsep maupun teori melalui berbagai aktivitas pengalaman pada berbagai lingkungan belajar, yaitu lingkungan di dalam sekolah dan di luar sekolah.
Dari konsep tersebut ada dua hal yang harus dipahami. Pertama, di pandang dari sisi proses pembelajaran, ABL menekankan kepada pengembangan aktivitas dan kreativitas siswa secara optimal. Dalam hal ini ABL menghendaki keseimbangan antara aktivitas fisik, mental, termasuk emosional dan aktivitas intelektual. Oleh karena itu, kadar ABL tidak hanya bisa dilihat dari aktivitas psikomotorik saja, akan tetapi juga aktivitas kognitif maupun afektif siswa.
Kedua, dipandang dari sisi hasil belajar, ABL menghendaki hasil belajar yang seimbang dan terpadu antara kemampuan kognitif (intelektual), afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan). Artinya, dalam ABL pembentukan siswa secara utuh merupakan tujuan utama dalam proses pembelajaran. ABL tidak menghendaki pembentukan siswa secara intelektual cerdas tanpa diimbangi oleh sikap dan keterampilan. Akan tetapi, ABL bertujuan membentuk siswa yang cerdas sekaligus siswa yang bersikap positif dan secara motorik adalah siswa yang terampil. Aspek–aspek semacam ini yang diharapkan dapat dihasilkan melalui pendekatan ABL.
D. Pembelajaran Berbasis Sistem Perilaku
Menekankan pada perubahanperilaku yang tampak dari peserta didik, sehingga konsisten dengan konsep dirinya.
Mengembangakan teori behavioristik, bertujuan untuk mengembangkan sistem yang efisien untuk mengurutkan tugas-tugas belajar dan membentuk tingkah laku dengan cara memanipulasi penguatan
Model sistem perilaku sebagai berikut:
1. Belajar Sosial
Mengelola perilaku, belajar pola perilaku baru, mengurangi fobia, belajar mengontrol diri (Albert Bandura, Carl Thoresen, Wes Becker)
2. Belajar Tuntas
Ketuntasan keterampilan akademik dan materi(Benjamin Bloom, James Block, B.F Skinner)
3. Belajar Terprogram
Ketentuasan keterampilan dan konsep informasi faktual (Carl Smith, Mary Foltz)
4. Simulasi
Ketuntasan keterampilan kompleks dan konsep dalam rentang waktu yang luas(Thomas Good, Jere Brophy, dll)
5. Pengurangan kekhawatiran
Kontrol terhadap reaksi tidak suka, implementasidalam penyembuhan pasien (David Jhonson, Roger Jhonson)
6. Belajar Mengontrol Diri
Mengembangkan pengaturan transfer perilaku ke dalam situasi lain berdasarkan prinsip operant conditioning (B.F Skinner)
7. Latihan Asertif
Mengembangkan komunikasi terpadu yang jujur dan lingkungan belajar yang produktif(B.F Skinner)
8. Latihan Pengembangan Konsep dan Keterampilan
Mengembangkan perilaku dalam situasi tertentu serta memodifikasi perilaku sesuai masukan dari lingkungan
Kesimpulan
Model pengajaran pendidikan vokasi adalah pendekatan yang sangat efektif dalam mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi dunia kerja melalui pengembangan keterampilan teknis dan praktis yang relevan dengan industri. Dengan menekankan pembelajaran berbasis proyek dan pengalaman praktis, model ini mengintegrasikan teori dengan aplikasi nyata, sehingga siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga dapat menerapkannya dalam situasi kerja sehari-hari. Selain itu, pendidikan vokasi sering melibatkan kolaborasi dengan industri dan pengusaha, yang memastikan bahwa kurikulum tetap relevan dan up-to-date dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Pendekatan ini tidak hanya membekali siswa dengan keterampilan teknis, tetapi juga mengembangkan soft skills seperti kerja tim, komunikasi, dan pemecahan masalah, yang semuanya penting dalam lingkungan kerja modern. Dengan demikian, lulusan pendidikan vokasi memiliki keunggulan kompetitif dalam pasar tenaga kerja, mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan teknologi dan tuntutan industri, serta siap untuk berkontribusi secara efektif dan efisien dalam pekerjaan mereka. Model pengajaran ini, dengan fokus pada aplikasi praktis dan kolaborasi industri, memastikan bahwa pendidikan vokasi tidak hanya menghasilkan tenaga kerja yang terampil, tetapi juga profesional yang siap berinovasi dan berkembang dalam karir mereka.
Referensi :
1. Model Pembelajaran Pendidikan Vokasi (stekom.ac.id)
2. Model+Pendidikan+Vokasi.pdf (uny.ac.id)
3. Sumayku, J. J. (2010). Perencanaan Dan Model Pendidikan Berbasis Vokasi. Prosiding APTEKINDO.
4. Priyanto, A. (2012). Model Pemrosesan Informasi Gaya Suara Anda Berbasis Komunikasi Interaksional dalam Pembelajaran Berbicara. Semantik, 1(1).
5. Rehalat, A., & Rehalat, A. (2014). Model pembelajaran pemrosesan informasi. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 23(2), 1-10.
.png)

Komentar
Posting Komentar